LANGKAH KAKI MENUJU KEASRIAN
Mereka memanggilmu,
mengajak darah segarmu mengalir bersama dengan mimpinya
dan engkau seharusnya bangga.
Hembusan nafasmu yang masih kokoh, selayaknya mampu terbukti nyata
dari caramu mengendalikan kuda-kudamu dalam keindahan langkah kaki yang kau pilih.
Kekuatanmu lugas terpancar dari tubuhmu yang masih jauh dari kata keriput.
Ototmu sempurna dan masih banyak tenaga yang tersimpan didalamnya.
Pernahkah engkau berfikir siapa mereka yang menyapa dan memujimu..?
Berharap engkau mulai bergerak dari ketololanmu.
Apakah kau tahu mereka sangat membutuhkanmu..?
Tanah menjadi gembur dari busuknya tubuh mereka, kini darahnya menjadi abu.
Apa engkau tak ingin menjadi pahlawan diabad ini..?
Beribu bahkan berjuta Virus-virus peradaban melayang-layang begitu jelas,
menghembuskan potensimu yang semakin jauh terselimuti.
Virus itu Juga tak terdeteksi oleh mesin komputermu,
hanya gosip murahan yang bertebaran disitus internet,
hanya bisa dibuka saat sisa air hujan telah mengering.
Jangan kau biarkan semua ini terasa hambar
Apa kamu mau..?
tak alami lagi seperti dulu, hanya ada campur aduk yang tak beraturan.
Jika engkau diam berarti kau hendak menggunduli kepala mereka.
Lembaran kertas dulu semakin kusam, tapi tetap saja tertawa untuk menutupi tangismu.
Biarkan sajalah roda negeri ini berputar tanpa tujuan pasti,
Kerikil tajam akan menusuknya,
akan banyak sekali hal-hal kotor yang tidak tersaring dari jaring tua ini.
Engkau bukanlah anak atau darah daging dari tanah subur ini lagi,
sampai-sampai engkau sudah lupa dengan warna benderamu sendiri.
Budayamu dimuntahkan oleh manusia yang tak berbusana,
berlenggok-lenggok dengan seksinya melucuti adatmu yang asri.
Masa kecilpun hilang dan sawah ladang raib dalam sekejap waktu.
Sementara hutan hijau kini menjadi hitam, pepohonan tinggal puncak yang ranggas.
Bola matamu terputihkan.
Tidak akan kau temukan lagi di persimpangan jalan kekolotan.
Semua serba modren, singkat tapi tak jelas, manusia individualisme, pragmatisme, hedonisme, dan mata uang negaramu telah ditukar dengan dolar palsu.
matamu jelas katarak, perdagangan bebas dipersimpangan jalan itupun tak kau lihat,
maka virus-virus itupun semakin tak terkontrol lagi.
Nafasmu berbau hutan, dan engkau hanyalah bocah yang akhirnya terbuang dari peradaban semak belukar.
Sekarang, apakah otakmu sudah normal..?
fikiranlah siapa mereka, sambung semua saraf otakmu yang telah terputus
Belum tahu juga..?
Atau kau sendiripun tidak tahu siapa kamu sebenarnya..?
Tenggelamkan sajalah dirimu…!
Mati sajalah kau…!
seandainya engkau berenang diantara ikan-ikan kanibal,
kata inilah yang terdengar ditelingamu.
Tapi syair ini tidak bermaksut untuk memperdengarkan itu.
Dulu ibumu mencari mulut polosmu, memberikan susunya,
engkau mulai merasa damai dipelukannya.
Ibumu takut bisiknya tak terdengar oleh rasa takut yang dia rasa,
dia tak ingin lembut kulitmu digulingkan oleh zaman.
Begitu pulalah mereka sama seperti ibumu.
Siapapun mereka, pastinya mereka tak ingin bahasamu pudar, ideologimu lentur,
dan semua nilai-nilai indah yang tersirat didalam kain merah putih ini ternodai.
Lihatlah pintu kumuh dipojok sana ..!
Jangan kau biarkan terbuka dan jangan pula kau tutup selamanya,
biarkan lebah masuk tapi ambillah madunya.
Jadilah filter,
jadilah mata air memberi kejernihan,
biarkan jiwa mereka damai dialam sana.
Sekarang, apakah kau sudah tahu langkah kaki seperti apa yang harus kau pilih….?
by "ardi Gunarto Boangmanalu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar